Di Bawah Langit Singapura (Bagian 1)

marina-bay-singapore

Singapura, entahlah kenapa negeri ini yang menjadi pilihanku untuk aku kunjungi. Negara modern dan maju yang ada di Asia Tenggara. Aku coba akses internet banking, lalu terpampang sisa saldo yang aku miliki. Sekitar 2 jutaan. Cukupkah untukku terbang kesana? Lalu aku cek rekeningku yang lainnya. Ada saldo yang cukup lumayan. Tapi aku tidak mau memakai tabungan ini. Karena ini adalah tabungan masa depanku, untuk biaya nikah ku nanti. Mungkin sekarang aku gagal menikah, waktu belum mengizinkan aku berdampingan dengan dia. Tapi aku tidak boleh memakai uang ini.

Aku menarik nafasku dalam-dalam. Tirai jendela kamar tersingkap oleh angin yang berhembus dari luar. Tatapanku terlempar jauh keluar jendela. Hujan masih turun di pagi hari. Kota Bogor masih berselimuti hawa dingin. Gemercik air yang jatuh dari bibir genting masih terus bersenandung. Dedaunan bergoyang tertiup angin, menjatuhkan butiran-butiran air hujan. Aku menuju tempat tidur dan menarik selimut. Jendela kamar masih terbuka, sesekali angin masuk berhembus pelan. Tak ada aktifitas hari ini. Aku tidak masuk kantor, karena ini hari minggu.

Mataku menerawang langit-langit kamar yang berwarna putih. Luka ini masih terasa. Hati ini masih dingin. Tak ada kehangatan untuk saat ini. Aku harus pergi. Ya, aku harus pergi. Aku ingin membuang kesedihanku. Kembali aku bangun dari tempat tidur dan menuju meja kerjaku. Kuambil laptop dan segera kunyalakan. Lalu aku mencari-cari tiket yang murah untuk ke Singapura. Dan akhirnya, aku pun dapat tiket untuk pulang pergi di bawah 1 juta. Lalu aku segera mencari hotel-hotel yang sedang promo. Aku pun dapat hotel yang berada di kawasan Geylang Rd dengan harga 500 ribuan permalam. Jadi aku putuskan untuk dua hari satu malam disana. Total uang yang sudah keluar untuk tiket pesawat dan hotel masih di bawah 1,5 juta. Masih ada sisa untuk beli tiket MRT dan makan disana. Lalu aku terus mencari banyak informasi tentang Singapura. Apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan disana.



Setelah semua informasi aku dapatkan mengenai negara tersebut, akhirnya rasa ketakutan itu pun semakin berkurang. Hari H telah tiba dan waktunya aku terbang. Karena aku bukanlah orang pemuda yang banyak uang, aku pun hanya bisa memilih maskapai penerbangan yang murah. Dan pilihanku jatuh ke maskapai Scoot yang masih milik Singapore Airlines Group. Waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi. Perlahan-lahan pesawat mulai lepas landas dari Bandara Soekarno Hatta. Sampai di Bandara Changi, aku langsung menuju imigrasi. Setelah keluar dari imigrasi, aku mencari map atau brosur yang disediakan disekitar area bandara untuk turis. Dan ternyata banyak bertebaran brosur informasi seputar Singapura di area kedatangan. Aku mengambil beberapa brosur yang aku butuhkan, agar aku tidak tersasar di negeri ini. Karena ini pertama kalinya aku menginjakan kakiku di negeri ini. Lalu aku mengeluarkan botol kosong dari dalam tas dan mencari tempat pengisian air minum. Ini harus aku lakukan demi menghemat dan menekan budget pengeluaran ku setipis mungkin agar bisa cukup untuk aku dua hari di negeri yang serba mahal ini.



Setelah isi air, saatnya aku mencari stasiun MRT. Aku mengikuti papan petunjuk yang bertuliskan Train To City. Stasiun MRT Changi ada di lantai paling dasar. Jangan lupa beli tiket MRT. Waktu itu saya beli Singapore Tourist Pass Two Days. Sengaja beli dua hari dan tidak beli yang single trip, supaya aku tidak perlu beli-beli lagi. Karena aku akan banyak sekali menggunakan MRT di Singapura ini. Jadi akan lebih hemat jika membeli untuk 2 hari atau tergantung kita mau berapa lama di negeri ini. Karena aku hanya dua hari, jadi aku membeli tiket untuk dua hari dengan harga $SG 16 dan deposit $SG 10 tapi deposit dapat diambil kembali saat akan pulang dengan menukarkan kartu Singapore Tourist Pass. MRT disini sangat enak dan nyaman karena selain bersih juga stasiunnya berada di pusat keramaian dan objek-objek wisata.

Dari Changi, aku turun di Stasiun Tanah Merah dan transit ke MRT Green Line jurusan Tuas Link. Karena MRT dari Changi hanya sampai Stasiun Tanah Merah dan akan kembali lagi ke Changi Airport. Dari MRT Green Line tujuan Tuas Link, aku turun di Stasiun Outram Park. Karena tujuanku mau ke Sentosa Island, aku transit ke MRT Purple Line jurusan HarbourFront. Dari Stasiun HarbourFront, aku keluar Vivo City Mall. Kebetulan Stasiun MRT-nya ada di bawah Mall. Untuk menuju ke Sentosa Island, ada dua pilihan. Bisa naik MRT lagi atau jalan kaki. Karena aku seorang backpacker dan hemat budget, aku pilih jalan kaki lewat sentosa broadwalk. Dijamin jalan kaki disini enak banget. Karena persis ada dipinggir laut dengan pemandangan kapal-kapal yang sedang berlayar. Kalau lelah, kita tinggal lewat escalator aja. Jaraknya juga tidak terlalu jauh. Sekitar 10 menit jalan kaki. Untuk menuju Sentosa broadwalk, kita tinggal keluar Mall Vivo aja. Posisi sentosa broadwalk ada dibelakang mall.

Sesampainya di Sentosa Island, aku hanya keliling-keliling menikmati pemandangan sekitar. Lalu foto di depan bola dunia yang terkenal dan iconic itu. Karena aku sendirian, jadi mau tidak mau aku harus meminta bantuan orang lain. Sedikit keluarkan keberanian, tinggal sapa orang yang ada di depan, samping, atau belakang kita untuk minta bantuan. Cekrek cekrek cekrek dengan berbagai gaya dan say thank you kepada orang yang sudah bantuin aku ambil foto. Seru kan!



Setelah bosan di Sentosa Island, aku kembali menuju Stasiun MRT HarbourFront. Di sentosa aku tidak masuk wahananya karena harganya lumayan mahal banget. Jadi backpacker seperti aku ini belum sanggup harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk masuk ke wahananya. Dari Stasiun MRT HarbourFront, aku kembali menuju stasiun Outram Park dan transit ke MRT Green Line jurusan Pasir Ris atau Tanah Merah lalu turun di Stasiun MRT Raffles Place. Dari stisiun Raffles Place aku keluar menuju Marina Bay Sands. Aku sempat bingung mau keluar lewat mana. Aku hanya mengandalkan papan petunjuk yang bertuliskan exit. Kesalahan terbesarku adalah tidak melihat papan informasi yang ada di stasiun dimana posisi aku berada dan akan keluar menuju arah mana. Aku menyusuri lorong-lorong bawah tanah di bawah gedung pencakar langit karena posisi stasiun ada di bawah tanah di bawah gedung pencakar langit. Setelah muter-muter, akhirnya aku menemukan pintu keluar tepat di depan jalan raya.

Kawasan Marina Bay ini banyak objek objek wisata gratis dan sekaligus buat kita istirahat menikmati kota Singapura sore hari hingga malam hari. Disini aku keliling-keliling menuju patung singa atau Merlion terus menuju Esplanade Bridge dan Helix Bridge serta ke kawasan Gardens By The Bay.

Sejauh ini perjalanan ku hanya menghabiskan $SG 26 saja, yaitu untuk beli tiket MRT. Lalu makan dan minum dari mana? Nggak lapar emang? Jangan ditanya lagi deh namanya keliling-keliling apalagi jalan kaki sudah pasti lapar dan haus. Tapi aku sudah mengisi botol air di bandara dengan penuh jadi tidak perlu beli air lagi. Terus kalau makan, kebetulan aku bawa bekal dari Indonesia (gila irit banget ya). Aku bawa beberapa roti dari Indonesia, karena kalau beli disini harganya bisa berlipat-lipat. Jadi dengan air minum gratis dari bandara dan beberapa roti sudah cukup buat aku kenyang.




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *