Di Bawah Langit Singapura (Bagian 4)

Serangoon-Road-Little-India





Stasiun MRT Little India terlihat sibuk dengan hiruk pikuk manusia dengan segala aktifitasnya. Wajah-wajah india mendominasi stasiun yang ada di bawah tanah ini. Beberapa wanita muda hingga paruh baya mengenakan pakaian sari yang merupakan pakaian tradisional India. Eskalator lantai dua membawaku naik ke atas untuk keluar dari stasiun bawah tanah ini. Sebuah jalan raya besar, Bukit Timah Rd, terpampang di depan mata dengan kendaraan yang lalu lalang. Taksi mendominasi pinggiran jalan, terparkir dengan rapi untuk mencari penumpang. Sebuah taksi stand di depan jalan Race Course Rd penuh oleh orang-orang yang sedang berteduh. Gerimis masih saja turun membasahi kawasan Little India. Tak jauh dari stasiun, ada sebuah bangunan bernama Tekka Center, yang merupakan pasar modern yang menjual pernak pernik yang berhubungan dengan budaya india. Mulai dari pakaian, makanan, parfum dan wewangian. Beraneka ragam bunga-bunga segar dengan aroma yang semerbak sebagai bahan pelengkap upacara adat berjejer disepanjang lorong bangunan. Kawasan ini benar-benar seperti di India. Aroma rempah-rempah dan wewangian khas India begitu menyengat terasa. Apalagi hampir semua orang-orang yang ada disini berwajah khas India dengan memakai pakaian tradisionalnya.

Langit tak begitu mendung. Tapi gerimis masih saja turun. Aku terus berjalan menyusuri Tekka Market untuk menuju Serangoon Road dan menyusuri jalanan besar itu. Disepanjang Serangoon Road, berjejer toko-toko yang menjual pernak pernik khas India. Sepanjang jalan Serangoon dihiasi pernak-pernik dan ukiran-ukiran cantik khas India yang melintang disepanjang jalan Serangoon Rd. Sepertinya sedang ada hari perayaan disini. Banyak sekali orang-orang menyusuri jalan besar ini yang dipenuhi oleh kendaraan-kendaraan yang lalu lalang namun dengan kecepatan rendah. Rupanya Sri Veeramakaliamman Temple yang ada dipertigaan jalan Belilios Rd menjadi tujuan mereka.

Kuil itu sudah dipenuhi kerumunan manusia yang akan melakukan ritual upacara keagamaan. Aku hanya melihat sekilas. Sebuah doa-doa mengalun dari pengeras suara yang ada di kuil itu hingga terdengar sayup-sayup disepanjang jalan melawan suara deru mesin kendaraan yang lalu lalang. Aku kembali melanjutkan langkah kaki menyusuri Serangoon Road ditemani gerimis kecil yang tidak juga mau reda. Dari kejauhan terlihat sebuah bangunan mesjid yang berdiri kokoh diantara gedung-gedung pencakar langit. Masjid Angullia yang terletak di Birch Rd dan Serangoon Road. Langkahku sedikit santai, karena tujuanku tak jauh dari masjid itu.



Jalan Syed Alwi yang tak jauh dari Masjid Angullia adalah menjadi tujuan akhirku. Kususuri jalan yang sangat terkenal dikalangan turis manca negara itu. Di jalan tersebut terdapat sebuah bangunan yang selalu jadi buruan para turis jika berkunjung ke negeri singa ini.Bangunan tersbut bernama Mustafa Center. Merupakan supermarket besar yang berada tepat di Jalan Syed Alwi menawarkan berbagai barang, mulai makanan, aksesoris, pakaian, koper, souvenir, jam tangan, peralatan olahraga, parfum, obat-obatan serta kebutuhan lainnya dengan harga relatif murah untuk ukuran Singapura. Supermarket ini cukup luas terdiri dari 8 lantai. Pintu masuknya pun dari beberapa arah. Tiap pintu dijaga oleh sekuriti yang mayoritas sudah berumur. Ketika akan masuk kedalam Mustafa Center, seorang petugas mencoba menghadang langkahku. Tak ada senyum dari bibirnya.

Ia menyapaku dengan sedikit bercakap bahasa inggris bercampur melayu singapura. Dia meminta ransel yang masih menggantung dipunggungku. Masih tak ada senyum sedikitpun dari kedua bibirnya. Tatapannya tajam. Wajahnya begitu tegas. Aku memberikan ranselku. Lalu dengan seutas tali, dia melakukan penyegelan kesemua resleting ranselku. Lalu mempersilahkan aku masuk ke dalam Mustafa Center. Sambil bergegas ke dalam, ku ucap kata terima kasih. Ia hanya tersenyum kecil. Lalu kembali memeriksa tas pengunjung yang lain yang akan masuk ke dalam Mustafa Center.

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong toko Mustafa Center yang sudah mulai ramai oleh pengunjung yang sebagian besar adalah para pelancong. Bahkan turis-turis asal Indonesia gampang ditemukan di tempat ini. Para pedagang berwajah India dan Arab cukup mendominasi tempat ini, walau banyak juga pedagang melayu dan chinese. Aku masih asik melihat-lihat barang-barang yang dipajang disepanjang toko dan belum tahu apa yang akan aku beli. Tiba-tiba seorang gadis berambut hitam terurai dengan warna kulit putih yang sedang menyeret koper warna biru menabrakku dengan keras hingga ponsel yang ada di genggamanku terjatuh. Aku tersentak kaget dan reflek segera mengambil ponsel yang tergeletak di lantai. Gadis itu berusaha membantuku dengan berkali-kali mengucapkan kata maaf dalam bahasa inggris. Wajahnya panik penuh dengan rasa bersalah. Bertubuh semampai dengan tinggi hampir menyamai tinggiku. Mungkin sekitar 165 centi meter. Dari logat bicaranya, sepertinya gadis itu bukanlah gadis melayu Singapura ataupun Malaysia.

Aku hanya tersenyum dan berucap It’s OK. Dengan mimik wajah yang masih menyimpan rasa bersalah, dia pamit meninggalkanku setelah tahu ponselku yang jatuh tidak ada yang lecet dan rusak. Lalu aku kembali melihat-lihat area sekitar hingga aku menemukan cendramata yang unik dan khas Singapura. Patung merlion berwarna emas dibandrol dengan harga S$ 2.5 dan T-Shirt bergambar kota Singapura seharga S$ 5 untuk 3 pcs menjadi pilihanku. Setelah beli beberapa cendramata dan puas berkeliling Mustafa Center, aku keluar pusat perbelanjaan itu dan kembali menyusuri Jalan Syed Alwi untuk menuju Serangoon Rd. Gerimis kecil masih saja turun.

Setelah sampai di antara pertigaan Serangoon Rd dan Syed Alwi, sayup-sayup aku mendengar seorang wanita memanggil. Dia tidak menyebutkan nama. Hanya berteriak memanggil dengan keras. Aku tidak tahu siapa yang dia panggil, tapi yang jelas dia menuju ke arahku.

“Khun, diaw! Khun, diaw!”

Kalimat itu terdengar beberapa kali dengan jelas dikupingku. Dia memanggil dalam bahasa Thailand. Aku menengok ke arah datangnya suara itu. Ternyata dia. Gadis yang tadi menabrakku di Mustafa Center.

“Arai na?” jawabku ketika gadis itu sudah ada tepat di depan wajahku. Rambutnya sudah layu tersiram gerimis. Mukanya berubah girang dengan senyuman yang lebar.

“You can speak thai?” tanya dia seolah meyakinkan apa yang dia dengar.

“Mai chai” jawabku.

“Cing dih?” tanyanya mencoba meyakinkan jawabanku.

“Chai” jawabku lagi. “I can speak thai but not fluently”

“Ohh. Cheu arai na? Chan cheu Pleng kah” dia mengulurkan tangannya sambil menyebutkan nama dirinya. Namanya Pleng. Dia gadis asal negeri gajah putih, Thailand.

“Phom cheu Kuka khrap” jawabku sambil membalas senyumnya.

“Where are you going?”

“I wanna go to Clarke Quay Station. And you?”

“I wanna go to Orchard. But I don’t know the way to go there”

“Are you alone?”

“No. My friend in Orchard. Do you know the way to go there?”

“Sure. You can follow me. I will go to Little India Station”.

Lalu kami berdua berjalan menyusuri Serangoon Road dengan tidak memperdulikan gerimis yang turun. Kami terus bercakap dengan Bahasa Inggris seadanya asal bisa saling memahami dan terkadang diselipi dengan Bahasa Thailand. Ini merupakan liburan pertamanya ke Singapura dan sekaligus liburan pertamanya keluar negeri. Dia masih duduk di bangku kuliah tingkat akhir. Jadi dia memanfaatkan waktu luangnya setelah selesai ujian untuk liburan sebelum dia menyelesaikan tugas akhirnya nanti. Perjalanan yang cukup jauh antara Stasiun Little India dan Mustafa Center sekitar 1 kilo meter pun tidak terasa. Kami malah asyik mengobrol banyak hal untuk bisa saling mengenal satu sama lain dalam waktu yang singkat.

Di Stasiun Little India, kami naik kereta Purple Line jurusan HarbourFront. Lalu dia kuarahkan untuk turun di Stasiun Dhoby Ghaut dan transit ke kereta Red Line jurusan Jurong East dan turun di Stasiun Orchard. Di stasiun Dhoby Ghaut kami berpisah setelah bertukar ID Line. Dan kami berjanji akan melanjutkan percakapkan nanti via aplikasi Line. Aku kembali melanjutkan perjalananku dengan kereta yang sama untuk menuju Stasiun Clarke Quay. Kereta kembali melaju. Dia melambaikan tangan dari kejauhan dengan sedikit melempar senyum ke arahku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *