Di Bawah Langit Singapura (Bagian 3)

Singapore_Arab_Street

Sinar matahari menyelinap dibalik jendela kamar. Mataku sayu-sayu terbuka. Rasa kantuk masih kuat memelukku dengan erat. Udara dingin ruangan kamar begitu terasa hingga ke dalam kulit. Aku masih asyik bersembunyi dibalik selimut mencari kehangatan. Ahh, semalam aku lupa mematikan AC-nya. Pantas saja dinginnya separah ini. Ku ambil ponselku yang terletak di atas meja disamping tempat tidur. Waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi.

Dengan sedikit bermalas-malasan, aku menanggalkan pakaianku dan menuju kamar mandi. Semburan kencang air dari keran membasuh seluruh tubuhku. Rasa dingin semakin terasa menyentuh seluruh tubuh hingga aku sedikit menggigil. Aku tetap bertahan, tak mau mau menggunakan air hangat. Pagi ini aku ingin terlihat segar.




Kuambil handuk kering yang menggantung di dinding kamar mandi untuk mengeringkan tubuhku yang basah. Kutatap bayanganku dicermin. Tampak wajah yang sendu seperti layu tapi masih menyimpan harapan untuk bisa segar kembali seperti semula. Kuhembuskan nafasku di depan cermin. Seketika bayangan wajahku memudar. Berharap rasa kecewa yang melukiskan diri dalam hati ini juga ikut memudar.

Aku keluar dari kamar mandi, Sambil mengeringkan rambut dengan ujung handuk yang masih aku kenakan di badan. Kutuangkan air panas dalam teko ke sebuah cangkir yang sudah berisi kopi, gula dan crimer. Lalu ku isi kembali teko pemanas air untuk kunyalakan kembali. Kali ini aku akan mengisi botol air minumku dengan air teh yang aku masak dari teko pemanas air. Ini kulakukan agar aku tidak perlu lagi membeli air saat diluar nanti. Karena air mineral di negeri ini sangatlah mahal, sementara uang yang aku punya tak seberapa.

Aku duduk di tempat tidur sambil menatap keluar jendela kamar. Langit pagi Singapura sangat cerah. TV yang menggantung di dinding mulai kunyalakan. Berbagai chanel sudah kucoba cari. Namun tak ada acara yang menarik perhatianku. Ku ambil sepotong sisa roti yang masih tergeletak di meja dekat cangkir kopi. Kucelupkan potongan roti itu ke dalam kopi yang masih hangat agar sedikit melunak dan memiliki rasa lain. Mulutku bergoyang melumat roti yang sudah lunak dengan rasa manis beraroma kopi. Lalu kuseruput kopi hangat yang ada dihadapanku. Rasanya sangat nikmat dan menambah semangat pagiku. Namun sayang, aku tak bisa menikmati sebatang rokok di kamar ini. Karena hotel ini memberlakukan peraturan dilarang merokok untuk para tamunya.

Aku beranjak dari tempat tidur dan bergegas memakai baju bersih yang masih tersimpan dalam tas ranselku. Kebetulan aku membawa pakaian untuk ganti. Kuambil peta Singapura dalam tas. Hari ini tujuanku adalah Masjid Sultan dan kawasan Arab Street. Tepat jam 8 pagi aku check out dari hotel. Kembali berjalan kaki menyusuri jalan Geylang untuk menuju Stasiun Aljunied. Jalanan tampak terlihat masih sepi. Udara pun sangat segar sekali. Langkah kakiku terus bergerak di atas trotoar yang bersih dan rapi. Aku terus berjalan di bawah langit Singapura dengan membawa setumpuk harapan. Ya, harapan untuk bisa menemukan kebahagiaan.



Stasiun Aljunied tidak begitu ramai pagi ini. Mungkin karena ini hari minggu jadi tak terlihat banyak warga yang beraktifitas diluar rumah. Kereta tujuan Tuas Link sudah tiba. Aku bergegas masuk. Tampak sepi penumpang. Bangku-bangku kosong masih berjejer. Aku duduk dikursi dekat pintu. Kereta kembali berderit kencang mencoba berlari melawan waktu untuk mengantarkanku ke Stasiun Bugis. Dari Stasiun Bugis aku keluar dan menyusuri jalan raya besar Victoria St. Tampak mobil-mobil cantik dan bus tingkat khas kota Singapura lalu lalang disepanjang jalan Victoria St. Jalan besar yang begitu rapi dan bersih dengan gedung-gedung cantik di sepanjang jalan menjulang tinggi ke atas langit. Dari Victoria St, aku belok kanan dan terus berjalan menyusuri jalan Arab St. Di sepanjang jalan Arab St berjejer toko-toko cantik dengan cat yang penuh warna menjadi pusat perhatianku. Di sepanjang jalan berderet mobil terpakir dengan rapi dan tak menghalangi lalu lalang kendaraan yang lewat jalan ini. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Toko-toko lantai dua berderet sepanjang jalan dengan tembok bercat aneka warna cerah menjajakan jualannya yang di dominasi oleh penjual tekstil khas Timur Tengah, karpet, permadani, perlengkapan sholat dan semua kebutuhan umat muslim.

Masuk ke dalam menyusuri jalan Muscat St, yang merupakan area Kampung Glam, berderet penjaja makanan halal khas Timur Tengah dan berbagai aksesoris khas Singapura hingga ke ujung jalan Baghdad St. Dari ujung jalan Muscat St terlihat bangunan megah berwarna keemasan. Bangunan itu adalah Masjid Sultan yang merupakan masjid pertama yang dibangun di negeri ini sekitar tahun 1826. Lalu kemudian direnovasi design bangunannya pada tahun 1920-an. Di depan masjid, terdapat sebuah restoran khas Indonesia, yaitu rumah makan minang yang ramai oleh pengunjung. Selain ada bangunan Masjid Sultan, di Kampung Glam juga terdapat bangunan Malay Heritage Center, merupakan pusat budaya warga melayu yang ada di Singapura.



Aku kembali berjalan menyusuri jalan Muscat St hingga ke persimpangan jalan Arab St dan North Bridge Rd dan istirahat sejenak disebuah kedai makanan halal khas Timur Tengah. Perutku mulai terasa lapar. Aku pesan makanan dan air mineral. Untuk harga cukup murah untuk ukuran Singapura dibanding di tempat lainnya tetapi cukup mahal untuk ukuran orang Indonesia. Angin sepoi berhembus menyapa wajahku. Gerimis kecil mulai turun membasahi kota ini. Orang-orang yang lalu lalang bergegas membuka payungnya dan terus berjalan menyusuri jalanan di bawah gerimis.

Ponselku berdering. Sebuah pesan singkat masuk dari seseorang. Aku membacanya. Tak ada yang menarik dari isi pesannya. Kumasukan ponselku kembali ke dalam saku celana. Lalu aku bangun dari tempat duduk dan membayar makanan ke kasir. Jam yang tergantung di dinding kedai sudah menunjukan pukul 10 pagi. Aku segera bergegas keluar kedai. Gerimis kecil masih turun. Angin berhembus perlahan mengibaskan rambutku ketika sebuah mobil melaju kencang disampingku. Aku terus berjalan menyusuri jalan North Bridge Rd hingga ujung jalan Rochor Rd di bawah gerimis kecil yang turun. Rambutku mulai basah, wajahku tersentuh gerimis yang turun. Aku masih terkagum-kagum dengan negeri nan elok ini. Jalan-jalan raya yang besar. Gedung-gedung pencakar langit yang indah, dan kendaraan lalu lalang yang tertata rapi. Negeri ini begitu indah, begitu bersih, tertata rapi dan penduduknya begitu disiplin.

Aku kembali ke Stasiun Bugis yang terletak di persimpangan jalan Victoria St dan Rochor Rd. Stasiun sudah mulai ramai orang-orang yang hilir mudik. Beberapa turis dari daratan Eropa terlihat sibuk dengan ransel-ransel besarnya. Aku berjalan menyusuri lorong stasiun bawah tanah untuk menuju peron MRT Blue Line jurusan Bukit Panjang. Stasiun Bugis merupakan stasiun yang mempertemukan dua kereta yaitu Blue Line jurusan Sungai Bedok ke Bukit Panjang dan Green Line jurusan Pasir Ris ke Tuas Link. Tak berapa lama kereta dari Sungai Bedok menuju Bukit Panjang tiba. Aku berdiri di garis antrian bersama para penumpang lain. Panumpang dari dalam kereta turun dengan teratur tanpa desak-desakan. Kami masih berdiri dalam antrian dengan sabar menunggu penumpang selesai turun dari kereta. Kursi-kursi dalam kereta sudah tak ada lagi yang kosong. Aku berdiri di dekat pintu keluar. Kereta langsung berderit dengan suara lantang berlari menerobos terowongan bawah tanah untuk membawaku ke Little India. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *