Di Bawah Langit Singapura (Bagian 2)

geylang rd aljuneid rd

Senja mulai turun dan menyapa kawasan Marina Bay. Aku yang duduk seorang diri menatap langit kota Singapura yang perlahan mulai menghitam. Orang-orang masih menikmati senja yang turun. Patung Merlion masih saja menyemburkan air dari mulutnya. Lampu-lampu gedung satu demi satu mulai menyala. Lelahku masih saja terasa. Dengan langkah kecil, akhirnya aku putuskan untuk check in hotel yang ada di kawasan Aljunied. Aku kembali melangkahkan kaki menuju Stasiun MRT Raffles Place. Awalnya aku sedikit kebingungan mencari stasiun MRT ini kembali. Karena stasiun ini berada di bawah gedung-gedung pencakar langit. Namun karena banyak petunjuk jalan yang cukup jelas, akhirnya bisa kutemukan juga stasiun ini walau cukup kelelahan muter-muter untuk bisa masuk ke dalam area stasiun bawah tanah tersebut.

Dari Stasiun Raffles Place, kembali aku naik MRT jurusan Tanah Merah dan turun di Stasiun Aljunied. Senja sudah benar-benar turun kala itu, dan hari sudah mulai gelap. Stasiun Aljunied yang berada di atas (bukan di bawah tanah) tampak masih ramai dengan berbagai aktifitas manusia yang hilir mudik. Aku keluar dari stasiun dengan bermodal peta yang aku cetak dari rumah, aku menyusuri jalanan kota Singapura mulai dari Aljunied Rd hingga Geylang Rd untuk menuju hotel yang sudah aku sewa lewat aplikasi online. Tidak kurang dari 5 menit, aku sampai di jalan Lor 20 Geylang dimana hotel tempat aku menginap berada di jalan tersebut. Masuk ke dalam hotel dan disambut oleh resepsionis wanita yang sangat ramah dan dia pun bercakap menggunakan Bahasa Indonesia karena tahu kalau aku berasal dari Indonesia. Setelah dapat kunci kamar, aku bergegas masuk ke dalam lift. Disini ada hal yang memalukan dan menjadi pengalaman buatku. Untungnya saat itu di dalam lift hanya aku seorang diri. Jadi, saat itu aku hendak menuju ke lantai 5. Seperti biasanya dan kebanyakan lift di Indonesia yang sering aku gunakan, kita hanya tinggal tekan nomor lantai yang akan kita tuju. Dan lift pun akan naik sesuai nomor yang kita tekan. Namun kali ini, sudah berkali-kali aku tekan, lift sama sekali tiada reaksi. Hanya diam membisu dalam kepanikanku. Ada apa ini? Kenapa lift tidak ada respon sama sekali saat kusentuh dengan jariku. Hanya bisu dalam keheningan.



Aku mencoba tarik nafas dalam-dalam, lalu hembuskan secara perlahan. Sedikit lebih rileks dan mulai berpikir. Aku menatap kartu kamar (kunci kamar elektronik) yang ada di genggaman. Lalu aku coba sentuhkan kartu tersebut dekat sensor angka yang ada dalam lift. Lalu tiba-tiba lift tersebut bangun dari diamnya dan mulai bernyawa. Aku sentuh angka lima dengan jariku dan lift tersebut pun perlahan bergerak naik ke lantai 5. Ahh, lega rasanya. Ternyata lift tersebut sudah dilengkapi sensor yang ada dikunci kamar. Jadi jika ada orang yang tidak punya kunci kamar, ia tidak akan bisa menggunakan lift tersebut. Ini pengalaman pertama ku menginap di hotel Singapura. Cukup berkesan dan menjadi pelajaran berharga.

Sebuah kamar yang cukup luas dan bersih dengan segala fasilitasnya. Tempat tidur yang besar yang sangat cukup untuk dua orang, dengan selimut warna putih dan bersih masih tertata rapih. Sebuah meja minimalis modern menggantung di sepanjang dinding di samping tempat tidur dan di bawah jendela kamar dimana sebuah pesawat telepon bergandengan dengan teko pemanas air, dua buah gelas kaca yang cantik ditemani sendok plastik bening dengan aneka kopi, teh, dan gula terbaring rapi dalam tatakan gelas. Sebuah mesin pengering rambut masih terbaring bersih disudut meja. Tirai jendela berwarna putih, aku singkap kan. Tampak diluaran sana lampu-lampu kota yang menggantung cantik disemua sudut gedung-gedung dan hotel-hotel berkedip seolah menyambut kedatanganku dan berucap, selamat bermalam di negeri kami yang kecil ini. Aku tersenyum, lalu berucap pelan, terima kasih Tuhan, Kau telah memberikan aku kesempatan untuk bisa menginjakan kaki di negeri yang makmur dan modern ini yang dulu pernah menjadi bagian dari kerajaan negeriku.

Aku menuju kamar mandi, kutanggalkan semua pakaian dan membiarkan air hangat yang keluar dari keran membasahi sekujur tubuhku dan membuang semua rasa lelah yang sudah berjam-jam lamanya bersemayam dalam tubuh. Kutuangkan sebuah sampo pada telapak tanganku. Dengan aroma yang harum, kuusapkan ke rambut hingga berbusa dan berusaha melepaskan debu-debu jalanan serta keringat yang sudah berpeluh dengan kulit kepala. Sebuah sabun cair berwarna merah dengan aroma khas dengan busa yang berlimpah menyelimuti sekujur tubuhku. Rasa lelah dan keringat berbau sengatan matahari pun luntur tatkala busa-busa sabun itu terjatuh dalam lantai kamar mandi, saat semburan air hangat jatuh dari keran di atas kepalaku. Kutatap cermin yang menggantung di atas wastafel, dalam hati berkata, inilah awal petualanganku. Mataku masih tajam menatap gambarku dalam cermin, sambil kugerakan sikat gigi turun naik mencoba membersihkan kotoran-kotoran makanan yang menyisa dirongga-rongga gigiku.

Handuk warna putih berukuran besar, membalut tubuhku dan mengeringkan sisa-sisa air keran yang masih menempel di rambut dan badan. Aku keluar dari kamar mandi. Kutuangkan air panas dalam teko untuk menyeduh kopi dalam cangkir dengan aroma yang cukup menggugah selera. Aku duduk di atas tempat tidur dengan masih mengenakan handuk. Sebuah roti di tangan kananku mencoba mengisi perutku dengan sesekali sambil kuseruput kopi hangat yang ada di tangan kiriku. Seketika aku teringat, kalau di Marina suka ada pertunjukan lampu-lampu yang menari dan kembang api yang indah. Lalu aku bergegas mengenakan baju dan kembali keluar dari hotel untuk menuju Stasiun Aljunied. Kususuri jalanan malam kota ini. Sungguh cantik kota ini dengan kendaraan yang lalu lalang dan teratur dengan disiplin mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Banyak sekali pejalan kaki hilir mudik. Lampu merah menyala, seketika semua mobil dengan lampu-lampu cantiknya berhenti dengan tertata rapi. Aku bersama-sama orang-orang berjalan menyebrangi zebra cross bak seorang model catwalk yang profesional, dengan disoroti lampu-lampu mobil yang masih setia menunggu lampu hijau menyala. Ahh nyaman sekali jalan kaki disini. Tidak takut terserempet kendaraan yang mencoba menerobos lampu merah. Tidak seperti di negeri ku yang masih belum disiplin. Disini para pemilik kendaraan begitu takut untuk melanggar. Mereka sadar untuk tidak merampas hak-hak orang lain dalam menggunakan fasilitas umum.



Stasiun Aljunied masih ramai dengan manusia-manusia petarung waktu yang masih hilir mudik dengan berbagai aktifitasnya. Aku duduk disebuah kursi tunggu untuk menunggu kereta tujuan Tuas Link. Kereta pun tiba, dan tidak terlalu penuh tapi sudah tidak ada lagi kursi kosong yang tersedia. Aku berdiri di depan pintu sambil melihat peta MRT tersebut yang menempel di atas pintu. Satu demi satu stasiun sudah terlewati. Di Stasiun Raffles Place aku turun dan kembali menyusuri lorong-lorong bawah tanah untuk keluar menuju Marina Bay. Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, suana Marina masih meriah. Lampu-lampu gedung pencakar langit menyala mengelilingi area Marina Bay. Tak kalah menarik, lampu-lampu sorot dari gedung Marina Bay Sand ikut menari dan beratraksi mengikuti irama musik yang dimainkan. Air laut pun silih berkilauan bermain dengan cahaya lampu dan hembusan angin yang memainkan gelombang-gelombang kecil yang sesekali membenturkan diri ke tembok-tembok kokoh yang membentengi kawasan Marina Bay. Aku duduk membelakangi laut, menatap gedung-gedung pencakar langit. Awan hitam menggululung, rembulan kecil bersembunyi dibaliknya. Bintang hampir tak kelihatan. Cuaca memang tak mendung tapi langit tak bermain dengan bintang-bintang saat ini. Tampak disekelilingku orang-orang bercengkrama dengan teman-temannya. Aku hanya duduk sendiri. Angin semilir dari arah laut berhembus dingin menyentuh hingga ke dinding hati. Seketika aku merasa kesepian. Seketika aku teringat seseorang. Aku terhanyut sebentar dalam kesedihan. Tapi aku harus melupakannya. Bukan kah aku pergi ke negeri ini untuk melupakan kesedihanku?

Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Aku berjalan perlahan dengan langkah kaki yang tak begitu berselera untuk bergerak. Aku masih nyaman duduk disini menikmati malam dengan hembusan semilir angin dari laut. Tapi hati tetap memaksa langkah-langkah kakiku. Kalau tidak, aku bisa tertinggal kereta terakhir. Naik taksi di negeri ini bukanlah pilihan yang baik untukku yang hanya seorang pemuda kampung berkantong tipis. Aku berdiri dipingir jalan menunggu lampu merah menyala. Mobil-mobil mewah melaju begitu cepat dihadapanku. Aku masih berdiri bersama orang-orang yang akan menyebrang. Lampu masih saja berwarna hijau menyala di ujung sana. Langkah kakiku mulai berayun, ketika mobil-mobil itu berhenti serempak dengan rapi di depan zebra cross. Suara berbunyi keras dari arah lampu merah memberikan waktu kepada kita untuk melangkah di atas zebra cross. Aku turun ke bawah gedung menyusuri lorong-lorong menuju stasiun. Tidak begitu ramai. Kereta tujuan Tanah Merah sudah tiba. Walau tidak begitu ramai, masih saja tidak tersedia kursi kosong. Deru kereta menjerit di dalam bawah tanah menuju stasiun berikutnya. Kereta melaju begitu cepat hingga tak terasa Stasiun Aljunied sudah ada dihadapanku. Aku turun dari kereta dan menuju lantai bawah untuk keluar stasiun. Masih saja ramai dengan orang-orang di stasiun ini walau waktu sudah malam. Aku kembali menyusuri jalan Geylang Rd untuk menuju hotel. Para pedagang sayur-sayuran segar menjajakan dagangannnya disepanjang jalan. Tak begitu ramai pembeli. Kuperhatikan satu demi satu harga-harga yang tertera. Lumayan cukup mahal harga sayuran di negeri ini dibanding di negeriku. Ya, aku tahu karena negeri ini sangat kecil dan mungkin sudah tidak ada lahan pertanian disini. Dan mungkin bisa jadi sayuran-sayuran ini hasil import dari negeri-negeri tetangga seperti Indonesia, Thailand atau Malaysia. Aku tidak tahu banyak soal itu.




Kusingkapkan tirai jendela kamar. Diluar sana masih terlihat lampu-lampu kota masih menyala mencoba melawan gelap dengan segala kemampuannya. Secangkir kopi hangat tertata di meja bawah jendela mencoba menemani malamku. Waktu sudah menujukan pukul 12 malam. TV yang menggantung di tembok masih menyiarkan acara berita setempat dengan berbahasa Melayu Singapura. Padahal aku tidak menikmati tayangan TV tersebut. Kantukku pun mulai datang. Kututup tirai jendela. Kumatikan televisi dan lampu kamar. Seketika ruangan terlihat gelap. Lalu kutarik selimut. Aku pun terlelap dalam gelapnya kamar dan heningnya suasana. Selamat malam Singapura. Esok aku akan bercengkrama denganmu lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *