SOLO BACKPACKER KE KUALA LUMPUR, MALAYSIA PART 3 (Explore Menara Kembar Petronas dan Bukit Bintang)

SOLO BACKPACKER KE KUALA LUMPUR, MALAYSIA PART 3 (Explore Menara Kembar Petronas dan Bukit Bintang)

Setelah kemarin kita eksplore Masjid Jamek hingga Petaling Street, saatnya kita kembali eksplore Menara Kembar Petronas dan Area Bukit Bintang. Dari Petaling Street kemarin, saya kembali menuju Stasiun Pasar Seni yang tidak jauh dari Petaling Street dan Kasturi Walk. Perjalanan selanjutnya adalah menuju Stasiun KLCC. Saya kembali naik LRT Laluan Kelana Jaya dengan harga tiket RM 1.80 Waktu yang dibutuhkan pun tidak terlalu lama, karena Stasiun KLCC tidak terlalu jauh dari Stasiun Pasar Seni.

Stasiun KLCC itu bersatu dengan Mall Suria. Jadi saat kalian sudah sampai di KLCC, kalian tinggal ikutin arah pintu keluar yang akan terhubung dengan Mall Suria. Nanti kalian akan bertemu dengan pintu keluar KLCC yang ada di sebelah kiri dan naik tangga ke atas, karena posisi stasiun KLCC berada di bawah tanah. Awalnya saya juga sempat nyasar nyari pintu keluar, malah lurus masuk ke dalam Mall Suria yang cukup ramai saat itu. Sempat panik, karena kebingungan mencari pintu keluar untuk bisa ke taman KLCC. Akhirnya balik lagi ke arah Stasiun KLCC dan keluar lewat pintu sebelah kanan yang langsung menuju jalan raya dan taman KLCC. Jika kita sudah berada di taman KLCC, kita sudah bisa menikmati pemandangan kota Kuala Lumpur di bawah kemegahan Gedung Kembar Petronas. Akhirnya bisa juga foto disini. Heheh… maklum selama ini hanya bisa lihat foto-foto selebgram di instagram berfoto di dekat Gedung Kembar Petronas yang menjadi simbol kota Kuala Lumpur.

Saya istirahat sejenak disana sambil mengambil foto dengan kamera ponsel, karena kamera mirrorless saya sudah habis baterainya. Orang-orang yang bermain di taman KLCC cukup ramai sekali dan dari berbagai warna kulit dan bentuk wajah yang rata-rata turis asing dari daratan eropa dan amerika. Kehidupan malam di Kuala Lumpur serasa bukan di Kuala Lumpur karena saya sedikit menemukan orang melayu atau penduduk asli. Kebanyakan yang lalu lalang adalah wajah-wajah asing alias turis yang berkunjung ke Kuala Lumpur. Mungkin karena Kuala Lumpur merupakan salah satu kota modern dunia seperti Singapura sehingga banyak sekali warga-warga asing disana.

Setelah satu jam berada di KLCC, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Paviliun yang merupakan area elit surganya belanja bagi orang-orang berduit. Mungkin kalau di Indonesia mirip dengan kawasan Grand Indonesia atau mirip dengan kawasan Orchard Road di kawasan Singapura. Awalnya mau jalan kaki menuju Paviliun, tapi saya sempat kebingungan arahnya kemana. Daripada nyasar lebih jauh, akhirnya saya putuskan naik bus gratis. Karena kebetulan dekat taman KLCC ada halte bus Go-KL yang disediakan oleh pemerintah Malaysia dengan cuma-cuma alias gratis. Saya sempat bertanya ke beberapa penumpang bus apakah bus ini tujuannya ke Bukit Bintang. Setelah yakin, naik deh walau busnya cukup penuh. Disekitar area bukit bintang, saya turun dari bus dan jalan kamu menuju arah Stasiun Monorail Bukit Bintang. Dan cukup amazing seh melihat situasi dan kondisi Distrik Bukit Bintang di malam minggu yang super cerah. Tampak jalan padat dengan orang-orang yang lalu lalang dan turis-turis manca negara. Alunan musik melayu bergema disana-sini di setiap sudut-sudut jalan Bukit Bintang. Gemerlap lampu gedung-gedung megah menghias malam beriringan dengan suara-suara penyanyi dan pemain musik jalanan yang profesional yang di tonton ribuan mata penduduk lokal dan turis asing. Walau keadaan cukup padat dengan hiruk pikuk manusia dengan segala macam kegiatannya, namun kondisi masih terlihat aman, rapi dan kondusif sekali.

Setelah puas menikmati suguhan musik dan lagu yang didendangkan para musisi jalanan, saya melanjutkan kembali perjalanan. Tinggal lurus sedikit dan pas lampu merah belok kanan sampailah di area yang terkenal yaitu jalan alor. Jalan alor merupakan pusat jajanan malam. Dimana jalan raya akan disulap menjadi kedai-kedai penjaja makanan beraneka ragam dengan pengunjung yang memadati kawasan tersebut. Tapi sayangnya, sepengamatan saya sangat jarang menemukan makanan berlabel halal. Rata-rata makanan yang di jual mengandung babi. Tapi saya melihat ditengah-tengah penjaja makanan non halal, ada nyempil sebuah restoran halal dan saat itu cukup ramai oleh pengunjung muslim. Jadi buat kalian yang beragaman muslim, harus sangat hati-hati kalau makan di kawasan ini. Saran saya sih, demi keamanan dan keterjaminan akan makanan halal, mending cari makan di luar area ini. Kalau pun harus makan di jalan alor, cari resto-resto yang memiliki label halah dari pemerintah Malaysia. Kalau di Indonesia di tandai dengan label halal MUI. Kalau kalian tidak menemukan label halal atau hanya ucapan-ucapan halal dari penjualnya, mending batalin dan pindah area lain. Dan saya pun memutuskan untuk makan disini demi menghindari makanan yang mengandung babi.

Saya langsung menuju hotel yang kebetulan hotel saya tepat berada di pertigaan jalan alor. Namanya Aura Hotel. Harga permalamnya saya booking lewat traveloka Rp 190.000,- tidak termasuk breakfast. Saya check in sekitar pukul 12 malam dengan memperlihatkan lembaran kode booking dari tiket.com dan memperlihatkan paspor saya. Lalu diminta deposite sebesar RM 50 dan uang deposit ini bisa kita ambil kembali saat akan check out. Setelah mendapati kamar di lantai 3, saya cukup puas dengan harga segitu. Kamar cukup bersih dengan kasur dobel untuk 2 orang, walau saya hanya datang sendirian. Ada TV, AC dan kamar mandi di dalam yang sudah dilengkapi dengan sabun, pasta gigi, shampo dan juga 2 buah handuk.



Setelah beres-beres dan rebahan, saya memutuskan untuk kembali ke bawah mencari makan dan minum karena saya masih kelaparan belum mengisi perut sejak tiba di Kuala Lumpur. Sebenarnya sih saya bawa bekal makanan dari Indonesia untuk menghemat, namun karena tidak ada air minum dan di hotel ternyata tidak disediakan air minum, terpaksa saya harus mencari minimarket disekitar hotel. Dan kebetulan di depan hotel terdapat dua buah minimarket lokal dan sevel. Saya memilih minimarket lokal (saya lupa nama minimarketnya) dan memebeli satu botol air berukuran 1,5 liter seharga RM 1,30 dan dua buah jus kotak berukuran 330 ml. Karena saya masih punya bekal makanan, jadi tidak memutuskan untuk membeli makanan. Setelah selesai memebeli minuman, saya kembali menuju hotel untuk beristirahat karena besok pagi perjalanan akan di lanjutkan ke Batu Caves.

kukakuku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *