KUKAKUKU

Gaya Hidup, Teknologi, Inspirasi Dan Motivasi

Solo Backpacker Ke Kuala Lumpur, Malaysia Part 2 (Explore Masjid Jamek, Dataran Merdeka, Abdul Samad Building, Pasar Seni dan Petaling Street)

Kali ini kita akan explore tempat-tempat seru di Kuala Lumpur, setelah kemarin kita bahas perjalanan menuju KL Sentral dari bandara KLIA. Kalau kita sudah berada di KL Sentral, langkah selanjutnya adalah kita akan mengunjungi Mesjid Jamek yang merupakan mesjid tertua dan bersejarah di Kuala Lumpur.

Dari KL Sentral, kalian bisa cari loket tiket kereta LRT Laluan Kelana Jaya. Beli tiketnya di Vending Mechine. Kalian tinggal pilih tujuan, yaitu Stasiun Masjid Jamek dan masukan uang sebesar RM 1.60 jadi kalian hanya bisa memasukan uang yang kecil, tidak bisa memasukan uang RM 20 ke atas. Kalau tidak ada uang kecil, kalian bisa tukar ke loket petugas. Lalu silahkan masukan RM 1 dan uang logam 60 sen. Nanti akan keluar tiket berbetuk koin plastik warna hijau. Nanti koin ini bisa di tempel di gate masuk dan kita simpan karena keluar akan menggunakan koin ini juga.

Kalau kereta atau trennya sudah datang (di Malaysia kereta itu sebutan untuk mobil. Kalau kereta mereka biasanya menyebutnya tren atau kereta api), biasakan untuk mendahulukan penumpang yang turun terlebih dahulu. Jangan langsung nyerobot, buang jauh-jauh sifat yang biasa kalian lakukan di Indonesia kalau naik kereta. Karena kalau tidak, kalian akan malu sediri disana. Malaysia warganya cukup disiplin dan taat peraturan seperti di Singapura. Ini sepengamatan saya selama disana. Kalau di Indonesia, penumpang yang mau turun di halangin pintunya sama penumpang yang mau naik. Suka gedek sama orang-orang seperti itu. Pengen rasanya buang jauh-jauh sifat-sifat orang seperti itu ke negeri antah berantah biar negeri ini disiplin dan teratur.

Stasiun Masjid Jamek hanya melewati Stasiun Pasar Seni. Jadi cukup dekat banget. Kalian juga bisa liat peta rutenya yang ada di dalam kereta di atas pintu keluar. Kalau kalian sudah sampai Stasiun Masjid Jamek, kalian tinggal naik escalator untuk keluar dari stasiun. Koin tadi di masukan ke lubang gate out dan pintu akan terbuka. Jadi kalau kita keluar, koinnya tidak kita bawa karena kita masukan bukan di tempel. Berbeda saat di gate in. Sistem seperti ini mirip di Thailand. Kalau di Indonesia kan saat ini tiketnya kita bawa dan tuker kembali di counter tiket untuk medapatkan uang jaminan tiket. Ribet ya, semoga kedepannya kita bisa seperti negara-negara tetangga sistem transportasinya.

Kalau sudah keluar stasiun, kalian tinggal jalan kaki ke arah masjid jamek. Masjid jamek sangat dekat dan berada di belakang stasiun. Kalian akan melihat kerennya bangunan masjid yang menurut sejarah, masjid ini dibangun oleh pedagang-pedagang Islam yang berasal dari India di persimpangan Sungai Klang dan Sungai Gombak, pada zaman penjajahan Britania. Bangunannya didesain oleh Arthur Benison Hubback dan mulai dibuka secara resmi oleh Sultan Selangor pada tahun 1909. Untuk arsitektur sendiri Masjid Jamek ini bergaya Moor. Kalau kalian ingin menyaksikan kerennya masjid jamek, datanglah pada malam hari. Karena pada malam hari masjid ini akan bermandikan cahaya serta sungai yang ada di depannya akan melakukan atraksi air mancur disepanjang area masjid jamek dengan di dominasi warna biru. Saya pun terkagum-kagum akan pesona keindahan masjid jamek malam hari.

Tidak jauh dari masjid jamek, kita tinggal jalan ke arah samping masjid akan terlihat sebuah bangunan bergaya arsitektur eropa yang disebut dengan bangunan Sultan Abdul Samad. Menurut sejarah, pemerintahan Britania di Selangor membutuhkan pusat pemerintahan baru. Sebelumnya, ibu kota Selangor terletak di Klang dan cukup jauh dari kawasan Kuala Lumpur yang sudah maju. Sultan Abdul Samad yang kala itu memerintah Selangor (dari tahun 1857 hingga 1898) setuju untuk memindahkan ibu kota Selangor ke Kuala Lumpur.

Sultan Abdul Samad Building

Pembangunan Gedung Sultan Abdul Samad mulai dilakukan pada tahun 1893, meskipun peletakan batu pertama baru dilakukan pada 6 Oktober 1894 oleh Gubernur Jendral Negeri-Negeri Selat, Sir Charles Bullen Hugh Mitchell K.C.M.G. Residen Britania di Selangor saat itu adalah W.H. Treacher C.M.C. Setelah siap sepenuhnya, gedung ini diresmikan oleh Residen Jenderal Selangor, Sir Frank Swettenham K.C.M.G. pada 4 April 1897. Gedung ini kemudian menjadi gedung perkantoran bagi pemerintahan kolonial Britania Raya yang dikenal dengan New Government Offices.

Pada tahun 1974, beberapa tahun setelah kemerdekaan Malaysia, seluruh kantor pemerintahan negeri Selangor dipindahkan ke Shah Alam, sementara kantor pemerintahan Malaysia dipindahkan ke Jalan Duta, Damansara. Oleh karena itu, nama gedung ini berubah menjadi Gedung Sultan Abdul Samad berdasarkan nama Sultan Abdul Samad, Sultan Selangor yang menjabat pada masa pembangunan gedung ini. Nama tersebut digunakan hingga sekarang (sumber: id.wikipedia.org)

Di depan Gedung Sultan Abdul Samad, terdapat lapangan atau warga disana menyebutnya Dataran Merdeka. Menurut sejarah, di sinilah bendera Union Jack diturunkan dan bendera Federasi Malaya dinaikan buat pertama kali pada tengah malam 31 Agustus 1957. Di sana terdapat tiang bendera tertinggi di Kuala Lumpur yang menjulang ke langit. Dan sampai saat ini Dataran Merdeka selalu di jadikan tempat perayaan Hari Merdeka.

Dataran Merdeka

Sebenarnya masih banyak tempat-tempat yang keren yang bisa kita explore di area ini. Berhubung saya hanya punya waktu yang pendek, jadi saya langsung menuju pasar seni atau Kasturi Walk. Untuk menuju pasar seni, kita tinggal jalan kaki saja ke arah stasiun Pasar Seni. Tidak jauh kok dan tidak akan membuat kalian berkeringat. Di pasar seni atau Central Market, kita akan banyak menemukan pedagang-pedagang yang menjajakan dagangannya di sepanjang jalan. Menurut sejarah, pasar ini sudah berdiri sekitar tahun 1888. Jika kalian ke Kuala Lumpur, wajib mengunjungi tempat ini karena disini merupakan pusat budaya untuk pameran dan pembangunan kebudayaan, kesenian, dan bidang kerajinan tangan di Malaysia. Kalian akan menemukan kumpulan kedai-kedai yang menjual oleh-oleh hasil kerajinan tangan warga disana mulai pakaian, makanan dan barangan tradisional juga ada disana.

Tak jauh dari Pasar Seni, tepatnya di ujung jalan pasar seni, kita tinggal belok kiri ke arah Petaling Street. Petaling Street juga biasa dikenal dengan sebutan China Townnya Kuala Lumpur. Namanya juga China Town sudah pasti di tempat ini banyak di dekorasi dengan arsitektur bergaya cina. Di sepanjang petaling street, banyak sekali pedagang yang menjajakan barang dagangannya, mulai dari makanan, pakaian, oleh-oleh dan juga hiasan yang di jual cukup terjangkau. Walau namanya china town, tapi pedagang disini tidak hanya orang-orang china, banyak juga pedagang India, Bangladesh dan yang lainnya. Saya mencoba untuk belanja disini dan beberapa kali menggunakan bahasa melayu namun kebanyakan tidak bisa menggunakan bahasa melayu, jadi saya akhirnya menggunakan bahasa inggris untuk tawar menawar. Walau masih ada juga yang bisa berbahasa melayu. Mungkin karena pedagang di daerah ini bukan orang melayu, jadi jarang yang fasih berbahasa melayu. Katanya sih, warga melayu atau pribumi disana lebih senang kerja di pemerintahan dan perkantoran. Mangkannya saya jarang sekali melihat pedagang-pedagang berwajah melayu disana.

Saya hanya membeli beberapa kaos yang harganya mulai dari RM 7 hingga RM 10. Setelah dapat beberapa oleh-oleh, saya kembali menuju Stasiun Pasar Seni dengan jalan kaki, karena memang jaraknya cukup dekat. Tujuan saya berikutnya adalah menuju Menara Kembar Petronas. Dari Stasiun Pasar Seni, saya membeli tiket LRT Laluan Kelana Jaya menuju ke Stasiun KLCC seharga RM 2.60. Jadi total pengeluaran saya kali ini seperti berikut ini:

Beli Kaos Dewasa 2 pcs seharga RM 14

Beli Kaos Anak-Anak 2 pcs RM 10

Tiket LRT ke Stasiun KLCC RM 2.60

Total RM 26.60

Di artikel berikutnya, saya akan meng-explore Menara Kembar Petronas dan Area Bukit Bintang yang terkenal di Malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *